PERUSAHAAN MANUFAKTUR

2. 1 REKENING-REKENING PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Rekening-rekening perusahaan manufaktur lebih banyak dibandingkan dengan
rekening perusahaan jasa dan perusahaan dagang. Hal ini disebabkan oleh sifat operasi
dan aktivitasnya lebih kompleks. Berikut rekening-rekening pada perusahaan
manufaktur, antara lain :
1. Rekening Pembelian Bahan Baku
Rekening ini digunakan untuk mencatat transaksi pembelian bahan baku pada
saat melakukan pembelian bahan baku dicatat pada akun Pembelian Bahan
Baku.
2. Rekening Persediaan Bahan Baku
Bahan baku yang sampai akhir periode tidak diproduksi, maka akan dilaporkan
sebagai Persediaan Bahan Baku. Persediaan bahan baku akhir periode
pelaporan akan menjadi persediaan bahan baku periode pelaporan selanjutnya.
3. Rekening Persediaan Barang Dalam Proses
Pada akhir periode kemungkinan proses produksi atas suatu produk belum
terselesaikan. Proses produksi yang tidak selesai sampai akhir periode maka
dilaporkan sebagai Persediaan Barang dalam Proses. Persediaan barang dalam
proses akhir periode tersebut akan dilanjutkan proses produksinya pada periode
berikutnya dan akan menjadi persediaan barang dalam proses awal.
4. Rekening Persediaan Barang Jadi
Persediaan barang dalam proses awal periode akan dilanjutkannya proses
produksinya hingga terbentuk barang jadi. Untuk penyelesaian barang jadi,
maka diperlukan biaya-biaya tambahan berupa :
• Biaya bahan baku langsung (Direct Materials)
Semua bahan baku yang membentuk bagian integral dari produk jadi, dapat
dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi dinamakan
biaya bahan baku langsung. Contohnya adalah kayu yang digunakan untuk
membuat furniture. Kemudahan penelusuran item bahan baku tersebut ke barang jadi merupakan pertimbangan utama dalam mengklasifikasikan suatu
biaya sebagai bahan baku langsung. Misalnya saja, jumlah paku di furniture
merupakan bagian integral dari barang jadi, tetapi karena biaya dari paku yang
diperlukan untuk setiap furniture tidak signifikan, maka paku dikalsifikasikan
sebagai bahan baku tidak langsung.
•Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
Tenaga kerja yang melakukan konversi bahan baku langsung menjadi
produk jadi dan dapat dibebankan secara layak ke produk tertentu atau dapat
diidentifikasikan langsung dengan barang jadi dinamakan biaya tenaga kerja
langsung.
•Overhead Pabrik (Factory Overhead)
Disebut juga sebagai overhead manufaktur, beban manufaktur, atau beban
pabrik. Adalah biaya-biaya manufaktur selain bahan baku langsung dan tenaga
kerja langsung.
5. Rekening Ikhtisar Harga Pokok Produksi
Rekening ini digunakan untuk menampung pembebanan semua biaya produksi
pada akhir periode semua biaya produksi akan dibebankan pada rekening
Ikhtisar Harga Pokok Produksi.
2.2 LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI
• Pengertian Harga Pokok Produksi
Harga pokok produksi adalah pernyataan yang menunjukkan total biaya
produksi untuk perusahaan selama periode waktu tertentu. Harga pokok
produksi juga sering disebut biaya produksi. Menurut Ikatan Akuntan
Indonesia, harga pokok produksi adalah semua biaya bahan langsung yang
dipakai, upah langsung serta biaya produksi tidak langsung, dengan
perhitungan saldo awal dan saldo akhir barang dalam pengolahan
•Fungsi Harga Pokok Produksi
Harga pokok produksi penting untuk memberikan gambaran umum kepada
manajemen tentang keseluruhan biaya produksi dan apakah biaya ini terlalu
tinggi atau terlalu rendah. Dengan lebih memahami biaya barang yang
diproduksi, perusahaan dapat melakukan penyesuaian untuk memaksimalkan
profitabilitas secara keseluruhan. Dengan memiliki gambaran umum tentang
apa yang dikeluarkan perusahaan dalam hal biaya produksi di semua komponen
spesifik bahan, tenaga kerja, overhead, dan manajemen dapat memeriksa area
ini lebih teliti untuk membuat penyesuaian atau perubahan yang diperlukan
untuk memaksimalkan laba bersih perusahaan.
• Tujuan Menghitung Harga Pokok Produksi
Menurut Mulyadi, tujuan menghitung harga pokok produksi antara lain :
• Menentukan harga jual produk
Harga pokok produksi bisa digunakan untuk menentukan harga jual produk
dan perhitungan ini memungkinkan perusahaan untuk merencanakan dan
menyesuaikan strategi penetapan harga persediaannya.
• Memantau realisasi biaya produksi
Mengumpulkan informasi biaya produksi yang dikeluarkan dalam jangka
waktu tertentu membantu memantau apakah proses produksi
mengonsumsi total biaya produksi sesuai dengan ang diperhitungkan
sebelumnya.
•Menghitung laba rugi periodik
Harga pokok produksi dibutuhkan untuk memproduksi produk dalam
periode tertentu yang dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan
produksi dan pemasaran dalam periode mampu menghasilkan laba atau
rugi. Informasi laba rugi bruto periodik dibutuhkan untuk mengetahui
kontribusi produk dalam menutup biaya non produksi dan menghasilkan
laba rugi.
• Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan dalam proses
Dalam neraca, manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan
produk jadi dan harga pokok produksi. Biaya ini, pada tanggal neraca masih
dalam proses untuk tujuan tersebut. Biaya produksi yang melekat pada
produk jadi yang belum laku dijual pada tanggal neraca disajikan dalam
neraca sebagai harga pokok persediaan produk dalam proses
• Cara Menghitung Harga Pokok Produksi
Cara menghitung harga pokok produksi adalah memperhitungkan semua
biaya yang berkaitan dengan pembuatan persediaan termasuk bahan langsung,
overhead pabrik dan biaya tenaga kerja. Berikut ini adalah rumus yang digunakan
untuk menghitung harga pokok produksi:
Harga Pokok Produksi = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja + Biaya
Overhead Pabrik.
Keterangan :
– Biaya bahan baku, mengacu pada bahan yang digunakan dalam proses
manufaktur yang menjadi bagian integral dari produk dan biayanya dapat
diidentifikasi dan dibebankan langsung padanya.
– Biaya tenaga kerja, biaya yang dikeluarkan untuk membayar para pekerja dan
pegawai yang bekerja (bagian dari upah atau gaji).
– Biaya overhead pabrik, biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
Pencatatan Bahan Baku
Pengendalian bahan baku penting diperhatikan oleh industri manufaktur.
Manajemen bahan baku yang baik bisa memaksimalkan keuntungan yang ingin dicapai
perusahaan. Dalam pengendalian bahan baku untuk industri manufaktur terdapat 5
metode pengendalian persediaan agar penggunaanya bisa dimaksimalkan serta
mengurangi resiko kerugian, anatara lain :
1. Metode The Mix-Max
Metode ini menggunakan asumsi tingkat minimum dan maksimum
ketersediaan bahan baku. Dalam menggunakan metode ini pihak perusahaan
perlu menentukan berapa tingkat minimum bahan baku sehingga bisa
diketahui kapan pemesanan bahan baku dapat dilakukan. Tidak hanya mengetahui jumlah minimum stok yang tersedia namun juga berapa jumlah
maksimal bahan baku yang perlu dipesan.
2. Metode The Two-bin
Metode The Two-bin adalah metode pengendalian persediaan dengan
membagi bahan baku menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah
bahan baku diterima serta pesanan dilakukan dan bahan baku kedua adalah
bahan baku yang digunakan ketika pemesanan dan pengiriman produk.
Metode dua wadah ini merupakan pengendalian bahan baku dimana
persediaan yang digunakan apabila salah satu dari dua golongan persediaan
bahan baku tersebut kosong. Pemesanan bahan baku kembali akan dilakukan
jika bahan baku pertama telah habis.
3. Metode Order Cycling
Metode order cycling merupakan metode pengendalian persediaan dengan
cara mengecek secara fisik persediaan bahan baku yang dimiliki yang
dilakukan setiap satu bulan atau tiga bulan sekali. Hasil dari pemeriksaan ini
membantu perusahaan mendapatkan informasi yang real time atas stok bahan
bakunya. Metode ini mendukung perusahaan dalam mengidentifikasi
kerusakan bahan baku karena sistem penyimpanan yang tidak benar.
4. Metode ABC (The ABC Plan)
Metode ABC (The ABC Plan) banyak dipilih oleh korporasi berskala besar,
karena perusahaan besar memiliki persediaan bahan baku yang besar. Dalam
metode ini persediaan bahan baku dibagi atas tiga kelompok yakni :
• Kelompok A merupakan bahan baku bernilai tinggi dengan jumlah
persediaan kecil namun pemesanannya dan pengawasannya tinggi.
• Kelompok B memiliki nilai sedang. Jumlah bahan baku ini sesuai dengan
jumlah kebutuhan pesanan produk yang dibeli.
• Kelompok C adalah bahan baku bernilai rendah namun jumlah
persediaannya besar dengan pengawasan rendah serta pemesanan yang rendah
5. Metode Periodic Review
Metode ini menggunakan jarak waktu atas dua pesanan adalah tetap. Hal ini
berdampak pada jumlah pesanan setiap periode berbeda setiap pemesanan
periodiknya. Dalam melakukan pemesanan bahan baku pihak perusahaan akan
melihat saldo bahan baku terakhir yang dimiliki pada satu kali periode.
2.4 PENCATATAN BIAYA BAHAN BAKU
1. Pengertian Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku atau raw materials cost adalah biaya bahan baku yang
anda gunakan untuk membuat produk. Penting untuk memahami bagaimana biaya
bahan baku bekerja karena mereka terus berubah. Pasokan dan permintaan
mempengaruhi biaya bahan baku, sehingga perusahaan harus mempertimbangkan
hal ini saat melakukan pembelian. Banyak bahan baku yang berasal dari sumber
daya alam, yang dapat dibatasi dan seringkali disaring. Data menunjukkan bahwa
raw materials cost meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena ketegangan ini
dan meningkatnya permintaan untuk bahan-bahan ini. Ini termasuk bahan baku
seperti minyak mentah, gas alam, baja, karet dan banyak lagi. Biaya bahan baku
mempengaruhi berapa banyak produk yang dapat diproduksi perusahaan pada
waktu tertentu dan berapa biaya produk jadi mereka. Biaya bahan baku juga dapat
bervariasi berdasarkan kualitas. Bahan baku berkualitas lebih tinggi harganya lebih
mahal daripada bahan baku berkualitas lebih rendah, jadi ini adalah faktor lain yang
perlu dipertimbangkan saat memutuskan apa dan berapa banyak yang harus dibeli.
2. Bagaimana Perusahaan Menggunakan Biaya Bahan Baku?
Perusahaan menggunakan biaya bahan baku untuk menentukan biaya akhir
dari produk yang mereka rencanakan untuk dijual. Mereka harus terlebih dahulu
membuat anggaran bahan baku langsung dengan menentukan berapa banyak yang
mereka butuhkan selama periode waktu tertentu. Penting untuk
mempertimbangkan jumlah ini dengan hati-hati karena jika Anda membeli terlalu
banyak bahan baku tertentu, bahan tersebut dapat menurun seiring waktu dan
menjadi tidak dapat digunakan. Secara umum, tujuannya adalah untuk memiliki semua bahan baku yang Anda butuhkan untuk menghasilkan suatu produk untuk
memastikan proses produksi yang efisien dan tetap sesuai jadwal.
3. Cara Menghitung Biaya Bahan Baku
Untuk menghitung raw materials cost yang digunakan, Anda mendapatkan
jumlah dari setiap biaya bahan langsung yang dikonsumsi dalam periode akuntansi.
Akun bahan baku langsung mencakup biaya bahan yang digunakan dan bukan
bahan yang dibeli untuk memperkirakan biaya produksi. Bahan langsung yang
digunakan dilacak untuk memastikan biaya pembuatan suatu produk. Bahan
langsung termasuk dalam biaya variabel. Jumlah bahan langsung, overhead pabrik,
dan biaya tenaga kerja sama dengan biaya produksi, maka rumusnya :
Biaya Produksi = Bahan Langsung + Overhead Manufaktur + Tenaga
Kerja Langsung
Memperkirakan bahan langsung yang digunakan membantu perusahaan untuk
menghitung titik pemesanan ulang (reorder level). Ini berarti lebih banyak bahan
baku perlu dibeli untuk produksi pada tingkat ini. Bahan langsung adalah resep
untuk barang yang diproduksi seperti yang tercantum di bawah daftar bahan.
2.5 PENCATATAN BIAYA OVERHEAD PABRIK
1. Pengertian Biaya Overhead Pabrik
Biaya Overhead Pabrik atau BOP adalah biaya bahan penolong, biaya
tenaga kerja tidak langsung serta semua biaya produksi lainnya yang tidak dapat
diidentifikasikan dengan mudah dibebankan secara langsung pada pesanan
tertentu atau produk tertentu.
Biaya Overhead mengacu pada biaya yang tidak dapat dilacak secara
langsung atau diidentifikasi dengan unit biaya apa pun. Pengeluaran ini
dikeluarkan untuk menjaga bisnis Anda tetap berjalan dan bukan untuk produksi
produk atau layanan tertentu. Sementara biaya Overhead Manufaktur juga disebut
overhead pabrik atau produksi. Biaya tidak langsung yang berhubungan dengan
pabrik ini termasuk bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung, dan overhead manufaktur tidak langsung lainnya. Overhead manufaktur tidak
langsung lainnya termasuk penyusutan, sewa, listrik, dll.
2. Penggolongan Biaya Overhead Pabrik (BOP)
 Menurut Jenisnya :
– Biaya bahan penolong
– Biaya tenaga kerja tidak langsung
– Biaya reparasi dan pemeliharaan
– Biaya asuransi
– Biaya Listrik
 Menurut Perilakunya Dalam Hubungan Perubahan Volume Kegiatan
– BOP Tetap, biaya overhead yang tetap konstan dalam perubahan volume
kegiatan tertentu.
– BOP Variabel, biaya overhead yang jumlah totalnya berubah secara
proporsional dengan perubahan volume kegiatan.
– BOP Semi variabel, biaya overhead yang jumlah totalnya berubah tidak
proporsional dengan perubahan volume kegiatan.
2.6 LAPORAN HARGA POKOK PENJUALAN
1. Pengertian Hrga Pokok Penjualan
Harga Pokok Penjualan atau HPP adalah jumlah pengeluaran dan beban
yang dikeluarkan secara langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan
produk atau jasa. Sedangkan menurut prinsip akuntansi Indonesia, harga pokok
penjualan dapat dijelaskan sebagai jumlah pengeluaran dan beban yang
diperkenankan, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan
barang atau jasa di dalam kondisi dan tempat di mana barang itu dapat dijual atau
digunakan.
2. Komponen dalam Laporan Harga Pokok Penjualan
Komponen yang menentukan HPP atau Harga Pokok Penjualan yaitu :
• Persediaan Awal Barang
Bagian penting dalam menentukan HPP adalah persediaan barang awal
periode berjalan atau tahun anggaran. Demi mengetahui saldo awal ini,
bisa langsung melihatnya pada neraca saldo saat ini atau neraca
pembukaan perusahaan tahun sebelumnya.
•Persediaan Akhir Barang
Hal ini juga berlaku dengan dengan persediaan akhir yang merupakan
persediaan pada akhir periode atau pada akhir tahun anggaran berjalan.
Melalui cara ini dapat menemukannya langsung di data penyesuaian pada
akhir periode perusahaan.
•Pembelian Bersih
Sedangkan pada pembelian bersih adalah keseluruhan dari pembelian
barang perusahaan secara tunai maupun kredit, kemudian ditambah dengan
biaya angkut dan dikurangi potongan pembelian serta retur pembelian.
3. Cara Perhitungan Harga Pokok Produksi
Adapun cara perhitungan harga pokok produksi dan HPP adalah :
• Menghitung Penjualan Bersih :
Penjualan bersih = Penjualan barang – (Retur penjualan + Potongan
penjualan)
• Menghitung Pembelian Bersih :
Pembelian bersih = (Pembelian barang dagang + Biaya angkut
pembelian barang) – (Retur pembelian + Potongan pembelian)
•Menghitung Persediaan Barang :
Persediaan barang dagang = Persediaan awal barang dagang +
Pembelian bersih
• Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) :
Harga pokok penjualan = Persediaan barang – Persediaan akhir barang dagang
Neraca Lajur Perusahaan Manufaktur
1. Pengertian Neraca Lajur Perusahaan Manufaktur
Neraca lajur merupakan catatan secara rinci tentang semua akun yang
digunakan dalam proses bisnis. Perusahaan manufaktur terdiri dari berbagai
pihak yang melakukan investasi maupun kerjasama dalam bisnis, sehingga
masing-masing pihak tersebut memiliki akun tersendiri. Catatan yang ditulis
dalam neraca lajur terdiri dari 6 lajur atau kolom yaitu neraca saldo,
penyesuaian, neraca saldo setelah penyesuaian, neraca, dan laba rugi. Data yang dimasukkan dalam neraca lajur ini merupakan hasil dari pencatatan yang
dituliskan pada neraca saldo. Keduanya merupakan dua hal yang saling
berhubungan bahkan dijadikan satu.
2. Fungsi Neraca Lajur Perusahaan Manufaktur
Penggunaan neraca lajur bagi perusahaan manufaktur dibutuhkan bidang
akuntansi sebagai salah satu alat untuk pengelolaan keuangan secara efektif dan
efisien. Dalam hal ini, neraca lajur dibutuhkan sebagai bahan dasar pembuatan
laporan keuangan.
Adapun macam fungsi dari neraca lajur dijabarkan seperti dibawah ini :
•Evaluasi Transaksi
Jika catatan yang tercantum dalam neraca lajur sudah lengkap, maka
hal ini dapat digunakan pihak perusahaan manufaktur sebagai data serta
bahan evaluasi untuk membuat kebijakan khususnya dalam bidang
keuangan. Jika dalam setiap pencatatan transaksi yang dilakukan dalam
jurnal harian terjadi kesalahan, maka neraca lajur ini dapat menjadi salah
satu alat untuk melakukan penyesuaian sehingga dapat berguna bagi
pencatatan yang dilakukan sebelumnya.
•Meringkas Data
Perusahaan manufaktur pasti memiliki berbagai jenis transaksi yang
terdiri dari pembiayaan, pengadaan, berbagai kewajiban, dan lain
sebagainya. Berbagai transaksi yang dilakukan setiap detiknya ini harus
dicatat sebagai jurnal harian perusahaan manufaktur. Catatan transaksi ini
ditulis baik dalam jumlah kecil maupun jumlah besar dalam bentuk lajur
atau kolom. Fungsi neraca lajur dalam hal ini adalah mengelompokkan
setiap transaksi yang telah dicatat dalam jurnal harian perusahaan
manufaktur sesuai dengan lajur yang berbeda. Sehingga dapat meringkas
data dengan rapi.
• Bahan penyusun laporan keuangan
Neraca lajur ini telah menyediakan data dari transaksi yang
dilakukan oleh perusahaan manufaktur. Informasi dan data yang disediakan dalam neraca lajur ini juga rinci dan sistematis sehingga dapat digunakan
sebagai bahan penyusunan laporan keuangan.
• Prosedur perusahaan
Perusahaan manufaktur dinyatakan sebagai perusahaan yang bagus
dan kredibel apabila telah mampu membuat laporan keuangan yang
professional. Salah satu bukti dari keprofesionalitasan tersebut salah
satunya diukur dari neraca lajur yang dibuat. Fungsi neraca lajur ini dapat
dijadikan sebagai data dan informasi keuangan yang transparan untuk
dibuat laporan keuangan. Alur masuk dan keluarnya kas dapat dilihat sehat atau tidaknya neraca lajur ini.
2.8 LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Berikut beberapa jenis Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur, yaitu:
1. Laporan Harga Pokok Produksi
Dalam perusahaana manufaktur, kita mengenal adanya istilah laporan harga
pokok produksi. Laporan inilah yang menjadi poin utama dalam perusahaan
manufaktur. Dengan adanya laporan ini, sebuah perusahaan manufaktur bisa
melihat jumlah nilai persediaan yang digunakan dalam sebuah proses produksi.
Selain itu, laporan tersebut juga dapat melihat jumlah nilai biaya yang digunakan
dalam proses produksi, dan jumlah nilai biaya overhead pabrik yang keluar dalam
sebuah proses produksi. Dengan demikian, perusahaan bisa menentukan dengan
pasti berapa nilai harga pokok pada produknya. Hal ini tentunya juga akan
berpengaruh pada nilai jual yang akan digunakan untuk menjual produk jadi dari
hasil produksi tersebut. Aktivitas Kegiatan yang diutamakan perusahaan
manufaktur adalah produksi, sehingga adanya biaya produksi yang muncul akan
diketahui menjadi harga pokok produksi. Dengan adanya nilai dan biaya tersebut,
maka akan terlihat berapa harga pokok produksi pada barang jadi yang telah dibuat
yang nantinya akan berpengaruh terhadap nilai jual dari barang produksi tersebut.
Kumpulan dari macam-macam biaya tersebut terdiri dari :
•Biaya bahan baku atau BBB
Harga pokok dari suatu bahan yang terdapat pada barang jadi
dinamakan biaya bahan baku. Namun, pada bahan baku merupakan bagian
dari barang jadi yang dapat diketahui setiap rincian bahannya. Bahan baku
pada sebuah pabrik, bisa juga berupa barang jadi dari pabrik lain.
•Biaya tenaga kerja langsung atau BTKL
Tenaga kerja yang melakukan konversi bahan baku langsung
menjadi produk jadi dan dapat dibebankan secara layak ke produk tertentu
atau dapat diidentifikasikan langsung dengan barang jadi dinamakan biaya
tenaga kerja langsung.
• Biaya overhead pabrik atau BOP
Biaya overhead pabrik adalah seluruh biaya yang timbul saat proses
pengolahan yang tidak dapat digolongkan dalam biaya bahan baku atau biaya tenaga kerja langsung. Terdapat 3 jenis biaya yang termasuk kedalam
biaya overhead. Ketiga jenis biaya tersebut adalah sebagai berikut:
– Biaya bahan penolong merupakan jenis biaya yang sangat kecil
kuantitasnya yang dipergunakan untuk proses pengolahan, dan tidak
bisa ditelusuri keberadaannya pada barang jadi.
– Biaya kerja tidak langsung, seperti contohnya upah pengawas, mekanik,
mandor, dan bagian reparasi.
– Biaya penyusutan gedung pabrik, seperti misalnya penyusutan mesin.
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi pada perusahaan manufaktur sama dengan laporan raba
rugi perusahaan komersil lainnya di mana di dalamnya terdapat nilai pendapatan
dan beban dalam satu periode sehingga mendapatkan nilai laba atau rugi dalam satu
periode tertentu. Di dalam laporan ini memiliki empat komponen dasar yang harus
diperhatikan. Komponen tersebut merupakan bagian penting dalam melakukan
pencatatan pada laporan laba rugi perusahaan, yaitu:
– Pendapatan (Revenues)
Suatu pendapatan perusahaan dari hasil penjualan produk yang dibuat.
Pendapatan tidak dapat dikatakan keuntungan murni hal ini karena dalam
mencari keungtungan masih harus di hitung dengan biaya yang diperlukan
sehingga menghasilkan barang ataupun jasa dari perusahaan tersebut.
– Beban atau Biaya (Expense)
Yang dimaksud dengan bebab atay biaya di sini merupakan beban yang
memiliki semua perhitungan biaya yang diperoleh perusahaan dalam
mendapatkan keuntungan.
– Keuntungan (Profit)
Hasil selisih antara pendapatan dengan beban. Namun, keuntungan harus
didapatkan ketika sebuah pendapatan dari hasil penjualan harus melebihi dari biaya yang dikeluarkan.
-Pada tahap akhir komponen laba rugi yaitu kerugian merupakan kebalikan
dari keuntungan. Sehingga, dapat dikatakan hasil pendapatan lebih kecil
dari biaya.
3. Laporan Neraca
Laporan neraca pada perusahaan manufaktur juga sama dengan laporan
nearca perusahaan komersil lainnya di mana di dalamnya terdapat dua bagian
penting yaitu aktiva dan pasiva. Aktiva ini merupakan sumber utama keuangan
perusahaan karena semua aset perusahaan tercatat pada laporan ini mulai dari aktiva
lancar seperti kas, bank, piutang, persediaan dan sebagainya. Sedangkan pasiva
adalah kewajiban (hutang) perusahaan serta modal perusahaan.
4. Laporan Perubahan Modal
Begitu juga untuk laporan perubahan modal perusahaan manufaktur pun
sama dengan laporan perubahan modal pada perusahaah komersil lainnya. Laporan
ini berisi nilai modal awal, perubahan modal karena prive atau hal lainnya yangKerugian (Loss)
2.9 JURNAL PENUTUP PERUSAHAAN MANUFAKTUR
1. Pengertian Jurnal Penutup
Jurnal penutup perusahaan manufaktur adalah bagian dari proses tutup buku
dan akhir dari siklus akuntansi perusahaan manufaktur (accounting cycle). Tutup
buku merupakan proses pemindahan rekening nominal dan pembagian profit ke
dalam pos laba ditahan (retained earning) yang nantinya akan diperoleh nilai
ekuitas pada akhir periode akuntansi. Rekening nominal adalah akun yang perlu
ditutup di akhir periode akuntansi dan berpindah ke akun laba ditahan seperti pos
beban dan biaya, pajak penghasilan, pendapatan dan lain sebagainya. Setelah
ditutup, nilai saldo pada akun-akun tersebut menjadi nol di awal periode berikutnya.
Kegiatan tutup buku dilakukan oleh perusahaan manufaktur di akhir periode
akuntansi, begitu juga dengan perusahaan dagang dan industri lainnya. Jurnal
penutup akan menjadi bahan ulasan atau review kinerja selama periode akuntansi
tersebut.
2. Tujuan dan Fungsi Jurnal Penutup
Jurnal penutup perusahaan manufaktur memiliki tujuan dan fungsi seperti di bawah ini :
• Menutup saldo yang ada di semua akun perkiraan sehingga nilainya menjadi
nol di periode selanjutnya.
• Memiliki nilai saldo akun modal yang sesuai dengan kondisi di akhir periode
akuntansi, perusahaan akan memperoleh saldo modal sama dengan jumlah
akhir modal yang disajikan di laporan neraca keuangan perusahaan.
•Untuk memisahkan antara akun pendapatan dan beban dengan jumlah kedua
akun tersebut di periode akuntansi berikutnya.
•Memberikan data saldo awal neraca untuk periode selanjutnya setelah
dilakukan tutup buku.
•Memudahkan proses pemeriksaan keuangan, karena semua transaksi sudah
dipisah antara periode saat ini dan periode selanjutnya.
• Memberikan informasi keuangan perusahaan yang sebenarnya, yaitu pada akun berkaitan dengan kegiatan perusahaan.
3. Komponen Jurnal Penutup
Jurnal penutup juga dapat dikatakan sebagai entri jurnal yang prosesnya
dilakukan di akhir periode akuntansi untuk memindahkan berbagai saldo akun
nominal ke akun permanen di buku besar akuntansi perusahaan. Jurnal penutup
dibuat setelah laporan keuangan tahunan telah dibuat agar memastikan nilai akun
pendapatan dan pengeluaran memiliki nilai saldo nol di periode baru. Berikut ini
komponen jurnal penutup perusahaan manufaktur :
1. Akun Pendapatan
Penghasilan (income) dan pendapatan (revenue) adalah dua istilah
yang memiliki makna berbeda? Penghasilan dapat berupa pendapatan
(revenue) dan keuntungan (gain). Sedangkan pendapatan adalah
penghasilan yang muncul akibat kegiatan perusahaan seperti penjualan,
dividen, sewa, imbalan dan sewa. Dalam proses tutup buku, akun
pendapatan akan dipindahkan ke rekening akun pendapatan di akun laba
rugi. Apabila perusahaan mendapatkan keuntungan, posisi ikhtisar laba rugi
berada di debet dan modal berada di kredit. Sebaliknya, jika mengalami
kerugian maka ikhtisar laba rugi berada di kredit dan modal berada di debet.
2. Akun Beban
akun beban menjadi salah satu komponen dalam jurnal
penutup. Beban adalah pengeluaran yang digunakan untuk memperoleh
barang atau jasa dan mempengaruhi nilai pendapatan perusahaan. Beban
dapat dikategorikan menjadi dua jenis yaitu beban usaha dan beban lain-
lain. Beban usaha berkaitan langsung dengan pengeluaran kegiatan bisnis,
sedangkan beban lain-lain tidak berkaitan langsung dengan bisnis.
3. Ikhtisar Laba Rugi
Dalam tutup buku, semua akun ikhtisar laba rugi juga dipindahkan
ke dalam akun modal. Perusahaan dapat memperoleh laba jika nilai
pendapatan lebih besar dari beban, dan memperoleh rugi kalau nilai beban
lebih besar daripada pendapatan). Kalau perusahaan memperoleh laba, akun
ikhtisar laba rugi disajikan dalam kolom debit dan akun modal pada kolom kredit
4. Akun Prive
Komponen jurnal penutup selanjutnya adalah akun prive, akun ini
ditutup dengan memindahkan ke akun modal. Prive merupakan penarikan
modal yang dilakukan oleh pemilik, umumnya terjadi di perusahaan yang berskala kecil.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai