PERUSAHAAN MANUFAKTUR

•Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan
yang membeli bahan baku dan kemudian mengeluarkan biaya lain untuk mengolahnya menjadi produk jadi untuk dijual. Jadi, semakin banyak permintaan (demand), maka semakin banyak penawaran (supply) yang dilakukan perusahaan untuk memenuhi permintaan konsumen. CONTOH
Ada beberapa jenis perusahaan Manufaktur, diantaranya adalah
1. Perusahaan Baju dan Tekstil => memproduksi barang seperti pakaian. siap pakai atau kain untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia.
Contohnya adalah PT Ever Shine Textile Industry Tbk dan sebagainya.
2. Perusahaan Komunikasi Transportasi dan Elektronik => memproduksi
alat untuk komunikasi, melancarkan mobilitas (transportasi) dan elektronik. Contohnya adalah PT Len Industri (Persero), dan lainnya.
3. Perusahaan Minyak, Kimia dan Plastik => selain pabrik juga. memerlukan pemasok bahan mentah yang berasal dari tambang.
Contohnya adalah Indocement Tunggal Prakarsa, Semen Batu Raja.
Perseo dan lainnya.
4. Perusahaan Kayu, Kertas dan Kulit => jenis manufaktur yang memerlukan Sumber Daya Alam (SDA) adalah hasil alam dari perkebunan di Indonesia. Contohnya, Pabrik kertas Tjiwi Kimia Tbk dan sebagainya.
5. Perusahaan Makanan dan Minuman => industri manufaktur di bidang makanan dan minuman memiliki banyak peminat. Contohnya adalah PT Sido Muncul, Tbk dan lainnya.

•KARAKTERISTIK PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Perusahaan manufaktur berbeda dengan jenis perusahaan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari karakter perusahaan yang sebenarnya sangat berbeda, seperti berikut ini:
1. Jenis Produksi
Karakteristik pertama dari perusahaan manufaktur adalah proses manufaktur. Dengan kata lain, perusahaan yang melibatkan pengolahan bahan mentah menjadi bahan akhir dapat disebut sebagai perusahaan manufaktur. Selain itu, produsen juga harus memiliki produk untuk dijual. Karena itu adalah tempat di mana keuntungan atau keuntungan bisnis dicapai. Tentu saja karakter ini tidak disebut perusahaan manufaktur jika tidak ada proses manufaktur. Contohnya seperti tenaga operator yang bertugas untuk memastikan jika kinerja mesin berjalan sesuai dengan fungsinya. Kemudian, agar bisa memastikan hasil produk apakah sudah sesuai atau belum, maka petugas (Quality Control) bisa menjalankannya fungsinya.
2. Jenis Persediaan
Jenis persediaan di dalam perusahaan manufaktur ada tiga, yaitu bahan mentah, produk setengah jadi dan produk jadi. Ketiga komponen ini menjadi ciri khas perusahaan manufaktur yang mana terdapat bahan.
pembuat produk dan produk itu sendiri. Jadi, perusahaan manufaktur. bertugas penyedia stok atau bahan-bahan pembuat stok. Contohnya adalah proses pembuatan mobil, Sedangkan proses terputus-putus. maksudnya adalah pembuatan produk yang menyesuaikan dengan kebutuhan dan juga keinginan konsumen. Jadi, pihak perusahaan tidak membuat produk begitu saja, tetapi harus bisa memenuhi permintaan konsumen.
3. Biaya Produksi
Untuk mengolah bahan mentah menjadi barang jadi memerlukan biaya. yang disebut biaya produksi. Proses produksi yang besar juga membutuhkan biaya yang besar pula. Hal ini karena mesin dan peralatan yang digunakan harus memiliki kualitas unggulan. Meski begitu, keuntungan yang didapat oleh perusahaan manufaktur juga sebanding dengan biaya produksinya. Contohnya adalah biaya pengolahan bahan, biaya pengadaan alat produksi dan sebagainya.
4. Penggunaan Mesin Berskala Besar
Perusahaan manufaktur memiliki mesin dan peralatan yang berskala besar untuk menunjang proses produksi. Karena untuk bisa menghasilkan produk yang berskala besar tentu saja membutuhkan proses yang cepat dan efisien. Namun, industri manufaktur tetap masih membutuhkan manusia untuk proses produksi, untuk
mengendalikan mesin dan peralatan membutuhkan tenaga manusia yang sudah profesional. Kecuali jika mesinnya sudah benar-benar canggih.
5. Pemasaran Dan Penjualan Setiap proses produksi tentu saja memerlukan proses pemasaran atau penjualan produk jika tidak ada proses pemasaran dan penjualan maka akan menimbulkan masalah yang sangat besar. Perusahaan manufaktur pada umumnya memiliki pemasaran yang sudah maksimal supaya penjualan produknya bisa meningkat pesat,yakni melakukan promosi. Hal tersebut bertujuan untuk memperkenalkan produk mereka supaya dikenal oleh masyarakat luas. Semakin luas jangkauan promosi, kemungkinan untuk mendapatkan customer juga akan lebih besar.

•perbedaan Perusahaan Dagang dan Manufaktur bisa kita lihat dari empat aspek, yaitu aspek persediaan, pembeliaan, harga pokok penjualan, dan akuntansi biaya.
1. Aspek Persediaan
Di dalam perusahaan dagang, persediaan mereka mencakup barang dagang. Sedangkan di dalam perusahaan manufaktur, persediaannya mencakup persediaan bahan baku, bahan pembantu, proses produksi, dan barang jadi.
2. Aspek Pembelian
Dalam sisi pembelian, keduanya sama-sama memiliki pembelian.
3. Aspek Harga
Dalam Perusahaan Manufaktur terdapat Harga Pokok Produksi, sedangkan dalam Perusahaan Dagang terdapat harga pokok Penjualan
4. Aspek Akuntansi Biaya
Dalam segi akuntansi biaya, perusahaan dagang tidak memiliki akuntansi biaya, sedangkan perusahaan manufaktur memilikinya.
Perbedaan lainnya yakni :
• perbedaannnya terletak pada metode pencatatan transaksi harian maupun
metode jurnal penyesuaian. Perusahaan Manufaktur memiliki struktur biaya yang
lebih kompleks dibandingkan perusahaan dagang.
• pada laporan laba rugi, Perusahaan Manufaktur terdapat satu komponen.
tambahan yaitu beban pokok produksi.
• di Perusahaan Dagang menggunakan harga pokok penjualan, jika di.
Perusahaan Manufaktur menggunakan harga pokok produksi, biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja, biaya produk dalam proses, dan biaya produk jadi.

•MACAM MACAM BIAYA PERUSAHAAN MANUFAKTUR Pada umumnya, ada 5 jenis biaya produksi yang dikenal untuk mengakumulasikan pengeluaran saat pengelolaan barang, yakni sebagai berikut :
1. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Jenis biaya yang satu ini mempunyai sifat pasti, sehingga bisa dianggarkan secara tepat. Biaya Tetap adalah pengeluaran yang jumlahnya tidak akan mengalami perubahan, meskipun volume produksi barang mengalami peningkatan maupun penurunan. Biaya tetap tidak akan mengalami pembengkakan sekalipun proses produksi sedang padat, sehingga bisa meningkatkan output. Contoh biaya tetap yang harus dibayarkan perusahaan dengan jumlah yang sama, meskipun volume produksinya berubah adalah
– Biaya sewa pabrik, Perusahaan diharuskan membayar biaya tersebut secara rutin sesuai dengan harga yang sudah disepakati.
– Pengeluaran perusahaan untuk membayar gaji bulanan karyawan.
– Biaya gaji untuk satpam pabrik yang menggunakan sistem pembayaran bulanan.
Adapun rumus biaya tetap adalah sebagai berikut:
Fixed Cost (FC) = Total Cost (TC) – (Unit Variable Cost (UVC) X Quantity)
Di bawah ini merupakan contoh cara menghitung rumus biaya tetap:
Per Juni 2021, PT. A menghabiskan biaya produksi sebesar Rp500 juta, dengan kuantitas produksi sebesar 25 ribu barang dan biaya variabel Rp15 ribu per produknya. Maka perhitungan biaya tetapnya adalah:
Fixed Cost Januari 2022 PT. A
= Rp500,000,000 – (25.000 X Rp15,000)
= Rp500,000,000 – Rp375,000,000
= Rp125,000,000
Jadi, biaya tetap PT. A pada bulan Januari 2022 adalah sebesar Rp125 juta.

2. Biaya Variabel (Variabel Cost)
Biaya variabel besarnya bergantung pada output. Apabila produksi barang semakin tinggi, maka biaya variabel juga akan mengalami peningkatan. Biaya variabel ini akan selalu mengalami perubahan selama proses produksi tersebut mengalami perubahan.
Saat proses produksi terhenti, berarti biaya variabel yang dikeluarkan oleh perusahaan manufaktur adalah nol. Variable cost merupakan komponen biaya produksi yang penting untuk menentukan harga barang saat pemasaran berlangsung, dalam hitungan per unit. Contoh biaya variabel yakni :
– biaya bahan baku
– upah tenaga kerja langsung
– biaya distribusi produk
– komisi penjualan
– biaya overhead
Rumus biaya variabel adalah:
Variable Cost (VC) = (Total Cost (TC) – Fixed Cost (FC)) / Quantity
Contoh perhitungan rumus biaya variabel:
Per April 2021, Indi mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp50 juta, dengan tagihan >fixed cost sebesar Rp5 juta. Pada bulan tersebut, Indi memproduksi 2500 unit barang, maka biaya variabelnya:
Variable Cost April 2021 Indi
= (Rp50,000,000 – Rp5,000,000) / 2,500
= Rp45,000,000 / 2,500
= Rp18,000
Maka, biaya variabel Indi pada bulan April 2021 adalah sebesar Rp18 ribu per unit produk.


3. Biaya Rata – Rata (Average Cost)
Biaya rata-rata ini dibutuhkan oleh perusahaan untuk menentukan keputusan produksi kedepannya. Selanjutnya, perusahaan bisa menentukan persentase laba yang ingin dicapai dari biaya rata-rata tersebut. Average cost akan dibandingkan dengan biaya tetap saat mengambil keputusan produksi. Dari hasil perbandingan, akan dapat diperoleh informasi mengenai biaya manakah yang lebih tinggi antara fixed dan variable cost. Hal ini bisa dijadikan sebagai patokan perusahaan untuk menentukan laba yang ideal. Contoh Biaya Rata – Rata yakni :
– harga sewa
– biaya mesin
– gaji karyawan
– langganan tahunan untuk keperluan bisnis
Rumus Biaya Rata – Rata :
Biaya Rata-Rata = Total biaya produksi/Jumlah unit yang diproduksi.
Contoh Perhitungan Rumus Biaya Rata – Rata :
Seseorang memiliki usaha minuman secara online. Setelah mengecek laporan laba rugi usaha, ternyata mendapatkan total biaya tetap dan biaya variabel untuk memproduksi minuman tersebut sebesar 5 juta rupiah.Nilai biaya total produksi tersebut ternyata mampu menghasilkan 357 buah minuman. Lalu, berapakah biaya rata-rata atau average cost dari produksi minuman tersebut?
Biaya rata-rata = Total biaya produksi/Jumlah unit yang diproduksi
= Rp5.000.000/357unit
= Rp14.005/unit
4. Biaya Marginal
Biaya marginal bisa disebut juga sebagai pengeluaran tambahan yang akan digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan produksi. Fungsi dari biaya marginal adalah untuk membantu perusahaan memaksimalkan kegiatan operasional secara menyeluruh. Hal ini akan membuat perusahaan bisa mencapai nilai keuntungan maksimal produk secara lebih efisien. Contoh Biaya Marjinal :
– Biaya bahan baku
– Biaya mesin produksi
Rumus Biaya Marginal :
MC = ∆TC / ∆Q
Contoh Perhitungan Rumus Biaya Marginal :
sebuah perusahaan PT. Murni mengeluarkan biaya sebanyak Rp. 400 juta untuk menghasilkan 1000 unit meja. Pada saat jumlah produksi sudah mencapai 2000 unit, maka perusahaan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 600 juta untuk memproduksinya. Dari contoh soal biaya marginal di atas, berapakah jumlah biaya marginal pada produksi meja tersebut?
Diketahui: ∆TC = Rp. 600 juta – Rp. 400 juta
∆TC = Rp. 200 juta
∆Q = 2000 unit – 1000 unit
∆Q = 1000 unit
Penyelesaian:
MC = ∆TC / ∆Q
MC = Rp. 200.000.000 / 1000 unit
MC = Rp. 200.000 per unit
Maka biaya marginal produksi meja tersebut sebesar Rp. 200.000. Yang artinya adalah total biaya meningkat Rp. 200.000 dengan produksi satu meja.

5. Biaya Total
Biaya total ini akan menjadi informasi mengenai jumlah total pengeluaran yang terjadi selama proses produksi. Biaya Total bersifat menyeluruh karena mencakup segala pengeluaran perusahaan selama proses produksi. Biaya bahan baku, administrasi, dan pemasaran harus ikut diperhitungkan dalam biaya total. Biaya total ini baru bisa diperhitungkan ketika perusahaan sudah memiliki output berupa barang jadi yang siap untuk dijual. Perhitungan biaya total ini harus dilakukan setiap periode produksi terselesaikan agar bisa segera dilaporkan. Contoh Biaya Total :
– sewa gedung kantor
– sewa alat dan utilitas kantor
Rumus Biaya Total :
Total Cost = (Biaya Tetap Rata-Rata + Biaya Variabel Rata-Rata) x Jumlah Unit Produksi
Contoh Perhitungan Rumus Biaya Total :
Perusahaan A memiliki biaya tetap produksi sebesar Rp30.000.000 dengan penjabaran sebagai berikut.
Sewa gedung kantor Rp15.000.000 per bulan
Sewa alat dan utilitas kantor Rp12.000.000 per bulan
Tagihan listrik dan air Rp3.000.000 per bulan
Kemudian, untuk biaya variabel perusahaan A yaitu sebesar Rp20.000.000 dengan rincian sebagai berikut.
Memproduksi barang sebanyak 1.000 unit, dengan harga per produk sebesar Rp30.000
Membayar upah pekerja yang membantu proses produksi sebesar Rp10.000.000
Membayar biaya pemasaran dan distribusi sebesar Rp5.000.000
Karena diketahui perusahaan A memproduksi barang sebanyak 1.000 unit, maka biaya tetap rata-rata adalah Rp30.000 (didapat dari Rp30.000.000/1.000), serta biaya variabel rata-rata adalah Rp20.000 (didapat dari Rp20.000.000/1.000). Dengan detail biaya di atas, maka perhitungan biaya total perusahaan A adalah: Biaya Total = (Biaya Tetap Rata-Rata + Biaya Variabel Rata-Rata) x Jumlah Unit Produksi
= (Rp30.000 + Rp20.000) x 1.000
= Rp50.000.000

•KONSEP HARGA PEROLEHAN
harga perolehan adalah semua perhitungan atas biaya yang dikeluarkan untuk bisa mendapatkan aktiva tetap. Sehingga, pencatatan dan perhitungan dari setiap transaksi dengan harga perolehan bisa dilakukan secara tepat dan akurat yang tersaji di dalam laporan keuangan. Harga perolehan bisa didapat dari biaya pembelian yang ditambah dengan seluruh biaya yang timbul di dalam aset tetap. Sehingga, aset tersebut nantinya bisa dioperasikan dan digunakan oleh perusahaan.
Contoh Konsep Harga Perolehan :
Misalnya, dibeli sebuah mesin seharga Rp10.000.000. Mesin tersebut kemudian dipasang di pabrik. Ternyata masih dikeluarkan beban pemasangan mesin sebesar Rp1.200.000. Maka, harga perolehan menjadi Rp11.200.000 (Rp.10.000.000 + Rp1.200.000). Nilai inilah yang dicatat dalam akuntansi. Harga perolehan ini dikeluarkan untuk memperoleh sebuah barang atau jasa dalam pertukaran.

•persediaan untuk perusahaan yang mengubah bentuk serta menambah nilai kegunaan barang pada umumnya diklasifikasikan ke dalam berbagai kelompok seperti berikut ini:
1. PERSEDIAAN BAHAN BAKU
Persediaan bahan baku adalah barang-barang yang dibeli atau diperoleh dari sumber lain sebagai bahan mentah untuk selanjutnya diolah menjadi produk jadi. Dalam beberapa kasus, persediaan bahan baku yang digunakan di dalam proses produksi dapat berupa suku cadang yang diperoleh dari pihak lain. Dalam hal ini, persediaan bahan baku seringkali disebut sebagai persediaan suku cadang.
2. PERSEDIAAN PRODUK DALAM PROSES
Persediaan produk dalam proses biasanya meliputi barang-barang yang masih dalam proses “setengah jadi”. Barang-barang dalam persediaan ini masih berada dalam proses pengerjaan yang memerlukan pengerjaan lebih lanjut sebelum barang itu dijual. Produk dalam proses, umumnya dinilai berdasarkan jumlah harga pokok bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang telah dikeluarkan atau terjadi sampai dengan tanggal tertentu.
3. Persediaan Produk Jadi
Persediaan Produk Jadi meliputi semua barang yang telah selesai dari proses produksi dan siap untuk dijual. Seperti halnya persediaan produk dalam proses, produk jadi pada umumnya dinilai sebesar jumlah harga pokok bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut.
4. PERSEDIAAN BAHAN PENOLONG
Persediaan bahan penolong meliputi semua bahan yang dimiliki untuk keperluan produksi, namun tidak merupakan bahan baku yang membentuk produk jadi. Bahan-bahan yang dikategorikan sebagai kelompok persediaan bahan penolong antara lain minyak pelumas untuk mesin-mesin pabrik, lem, benang untuk menjilid dan buku-buku pada perusahaan percetakan.
5. PERSEDIAAN LAIN-LAIN
Sama seperti pada perusahaan dagang, persediaan lain-lain dalam perusahaan manufaktur terdiri dari persediaan kantor plastik, kardus, alat-alat kantor dan lain sebagainya. Biasanya barang persediaan ini akan dipakai dalam jangka waktu relatif pendek. Persediaan ini akan dibebankan sebagai biaya administratif & umum atau biaya pemasaran.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai